Selasa, 23 Februari 2016

Indahnya Bersama Al-Qur'an



“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih urus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Surah Al Israa 9)
            Hidup dalam naungan Al-Qur’an bererti selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an baik secara tilawah(membaca), tadabbur (memahami), hifzh (menghafalkan), tanfiidzh (mengamalkan), ta’liim(mengajarkan) dan tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman dan rujukan hukum).
Rasulullah saw . bersabda: “Sebaik-baiknya kamu orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”
            Orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah orang yang masuk pada tahapan awal dari interaksi terhadap Al-Qur’an dan orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah orang yang sudah sampai tahapan akhir daripada interaksi terhadap Al-Qur’an, Namun secara umum orang-orang yang berjiwa Robbani adalah orang yang senantiasa mengajarkan Al-Qur’an dan pada saat yang sama orang belajar Al-Qur’an dan semuanya masuk orang yang terbaik dari umat Islam.
 At-Tilawah (Membaca Al-Qur’an)
            “Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi” (Surah Al-Baqarah 121). 
            Salah satu interaksi terhadap Al-Qur’an yang harus diperbanyak adalah tilawah Al-Qur’an. Salafu sholih sangat serius dalam masalah tilawah. Utsman bin ‘Affan mengkhatamkan setiap hari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Abdullah bin Amru bin Al-Ash ketika diperintahkan membaca Al-Qur’an sebulan khatam, beliau masih menawar bahwa dirinya masih mampu untuk lebih cepat dari itu. Setelah terjadi tawar-menawar, maka Rasulullah saw. membolehkan membaca Al-Qur’an setiap tiga hari khatam. Sementara imam As-Syafi’i mengkhatamkan 60 kali dalam bulan Ramadhan diluar waktu sholat. Sebagian ada yang setiap minggu khatam dan ada yang sepuluh hari khatam. Demikianlah tilawah Shalafu sholih. 
            Orang-orang beriman menjadikan Al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya dan tidak pernah bosan dan kenyang dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin ‘Affan ra,“Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur’an”. Kerana dengan senantiasa membaca Al-Qur’an, akan mendapatkan banyak kebaikan.
            Rasulullah saw. bersabda, “Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan itu sekuat kemampuan kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang, ubat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diluruskan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk keranabanyak diulang. Bacalah keranaAllah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR Al-Hakim)

 At-Tadabbur (Memahami Al-Qur’an)
            Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Surah Shaad 29).
            Tadabbur Al-Qur’an adalah meneliti lafazh Al-Qur’an untuk sampai pada makna Al-Qur’an. Intinya bahawa tadabbur iaitu memahami Al-Qur’an, mendalami, memikirkan dan memperhatikan agar dapat diamalkan. Inilah tujuan inti dari diturunkan Al-Qur’an, iaitu untuk difahami isinya kemudian diamalkan. Sebab jika orang membaca sesuatu dan tidak memahami maknanya maka tujuan inti dari apa yang dibaca tidak sampai. Orang yang berilmu dan memiliki peradaban adalah orang yang memahami apa yang dibaca.
           Berkata Ibnu Taimiyah, “Tradisi yang terjadi adalah menolak, jika suatu kaum membaca kitab pada disiplin ilmu tertentu, seperti kedoktoran atau matematik kemudian tidak memahaminya. Bagaimana dengan kalam Allah Ta’ala yang merupakan kunci penjagaan, keselamatan, kebahagiaan dan pedoman pada agama dan dunia mereka ?”
            Al-Qur’an adalah mu’jizat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan manusia dapat menikmati mu’jizat tersebut. Seluruh isinya berupa kebenaran, kebaikan, keindahan, ilmu pengetahuan dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan. Orang yang hidup dalam naungan Al-Qur’an mereka akan mendapatkan keberkahan. Keberkahan umur, keberkahan harta dan keberkahan sarana lainnya. Sebaliknya manusia yang berpaling dari Al-Qur’an, mereka akan mendapatkan kehidupan yang paling sempit, sengsara dan menderita di dunia dan akhirat.
            “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan” (Surah Thahaa 124-126).
            Sangat disayangkan jika mu’jizat terakhir yang membawa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tidak dapat difahami dan dini’mati oleh majoriti manusia. Tetapi inilah realitas yang terjadi, majoriti manusia tidak beriman pada Al-Qur’an dan majoriti umat muslim tidak mengetahui isinya.
Al-Hifzh wa al-Muhafazhah (Menghafal dan menjaga Al-Qur’an)
            “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim” (Surah Al-ankabuut 29).
            Maksudnya, bahwa ayat-ayat Al Quran itu terpelihara dalam dada dengan dihafal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Dan inilah satu bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa Al-Qur’an mudah dibaca, mudah difahami, mudah dihafalkan dan mudah diamalkan. Surah Al-Qomar menyebutkan empat kali, bahwa Allah telah berjanji untuk memudahkan al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran. “Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Surah Al Qomar, 17,22,32, 40). Para ulama tafsir, diantaranya Al-Qurthubi, As-Suyuti dan lainnya, bahwa Allah telah memudah Al-Qur’an untuk dihafalkan.
            Banyak orang-orang beriman yang sudah putus asa dalam menghafalkan Al-Qur’an, seolah tidak mampu lagi menambah hafalannya, yang ada malah berkurang. Apalagi jika umur sudah mulai menginjak 40 tahun. Masalah ini menunjukkan kelemahan iman dan semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan ada seorang da’i yang mengatakan bahwa dalam Islam semuanya mudah kecuali menghafal Al-Qur’an. Kekadaan seperti ini tentu sungguh sangat memperihatinkan. Padahal jika kita melihat keislaman para sahabat, majoriti mereka masuk Islam sudah dewasa, sebagiannya sudah melewati usia 40 tahun, tetapi mereka masih terus bersemangat untuk menghafal Al-Qur’an.
            Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang dalam dadanya tidak ada (hafalan) dari al-Qur’an, maka seperti rumah rusak (kosong)” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Rumah rusak atau kosong, berarti mudah dimasuki mahluk lain, seperti syetan atau jin yang senantiasa mengganggu manusia. Dan memang kita mendapati, bahwa orang yang suka diganggu syaitan atau jin adalah orang yang hatinya kosong, iaitu kosong dari keimanan dan kosong dari Al-Qur’an.
            Rasulullah saw. banyak memberikan keistimewaan bagi orang-orang yang hafal Al-Qur’an, diantaranya,
“Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir, bersama malaikat yang mulai dan baik” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Tidak boleh hasad kecuali pada dua, seorang yang diberikan Al-Qur’an dan diamalkan siang malam. Dan seorang yang diberi harta, dia menginfakkannya siang malam” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Ahlul Qur’an adalah ahli Allah dan yang diistimewakan-Nya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
“Yang memimpin (imam) suatu kaum adalah yang paling menguasai Al-Qur’an” (HR Muslim).
Pemimpin disini baik dalam shalat dan tentu saja diluar shalat. keranaRasulullah saw. ketika memberi tugas pada para sahabat, yang diangkat jadi pemimpin adalah yang paling menguasai Al-Qur’an atau yang paling faqih terhadap agama. 
At-Tanfidz wa al-‘Amal bihi (Mengamalkan Al-Qur’an)
            Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan” (Surah  At-Taubah 105)
            Langkah interaksi terhadap Al-Qur’an berikutnya adalah mengamalkannya. Mengamalkan Al-Qur’an berarti mengamalkan ajaran Islam atau beramal shalih. Saidina Ali menjelaskan sifat-sifat orang yang bertaqwa, iaitu orang yang beramal sesuai dengan petunjuk Al Qur’an (al-‘amalu bit tanziil). Inilah interaksi yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman, menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan yang diharamkan. Mengamalkan Al-Qur’an harus sampai pada tingkat bahwa Al-Qur’an menjadi keperibadian atau akhlaknya. Inilah yang terjadi pada diri Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan ‘Aisyah,
“Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Begitu juga para sahabat disebut dengan ‘Generasi Al-Qur’an yang unik’.
Diantara bentuk mengamalkan Al-Qur’an adalah mengikuti sunnah Rasul saw. kerana kita melihat banyak orang yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an tetapi tidak mengikuti sunnah bahkan yang menafikan sunnah.
Firman Allah swt.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”(Surah Al-Hasyr 7).
            Sesuatu yang harus menjadi keprihatinan kita orang-orang beriman adalah bahwa banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan Rasulullah saw. Bahkan keprihatinan ini diabadikan dalam Al-Qur’an, “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak dipandang serius” (Surah Al-Furqan 30). Meninggalkan Al-Qur’an ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya kerana begitu gencarnya propaganda penyesatan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Begitu juga upaya yang sistematik agar umat Islam jauh dari Al-Qur’an,
            “ Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”(Surah Al-Fhushilat 41).
            Berbagai macam dakwah kebatilan digalakan, berbagai macam hiburan yang melalaikan disemarakkan sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan dari membaca Al-Qur’an, meninggalkan dari memahami Al-Qur’an, meninggalkan dari menghafalkan Al-Qur’an, meninggalkan dari mengamalkan Al-Qur’an dan meninggalkan dari segala macam yang terkait dengan Al-Qur’an. TV mempunyai peranan yang sangat besar dalam membuat umat Islam meninggalkan Al-Qur’an.
At-Ta’lim wa ad-Da’wah wa al-Jihad (Mengajarkan dan menda’wahkan Al-Qur’an )
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar” (Surah Al-Furqaan 52).
           Melihat fenomena bahwa umat meninggalkan Al-Qur’an, maka harus ada upaya berkesinambungan bagi para da’i, iaitu mengajarkan Al-Qur’an, menda’wahkan dan berjihad dengannya. Inilah bentuk interaksi terakhir orang-orang beriman dengan Al-Qur’an. Inilah sejatinya yang disebut dengan hidup dalam naungan Al-Qur’an. Ta’lim, da’wah dan jihad yang terus-menerus sampai Allah memberikan kemenangan atau mati syahid dijalan perjuangan ini. Inilah kehidupan yang telah dilalui oleh Rasulullah saw. bersama dengan keluarga dan para sahabatnya. Diteruskan oleh generasi salafu shalih berikutnya, perjuangan yang tidak kenal henti.

             As-Syahid Sayyid Quttub menceritakan betapa indahnya hidup dalam naungan Al-Qur’an. Beliau berkata dalam muqaddimah Zilalnya, “Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah ni’mat. Ni’mat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Ni’mat yang akan mengangkat umur, memberkahi dan menyucikannya”.
Sumber – Syariahonline
http://dakwah.info/supplemen/hidup-di-bawah-naungan-al-quran/

Mahir Arab

         

           Umumnya orang yang belajar bahasa arab memiliki semangat yang gigih dan melakukan proses belajar yang terus menerus. Bahasa apapun, termasuk bahasa arab, ibarat puzzle raksasa yang tak akan utuh dan sempurna tersusun dalam satu waktu pada satuan detik, hari, minggu, atau bulan. Lebih tepatnya kita berbicara satuan tahun karena ketika ini ditanyakan kepada mereka yang sudah bisa berbahasa arab, mereka tidak akan mampu menjawab pada detik, hari, pekan, bulan ke berapa mereka telah menguasai bahasa ini. Tapi tenang saja, periode dalam proses belajar tidak akan terasa jika memang proses ini dinikmati, dinikmati sebagai langkah ibadah dan menuju pribadi yang lebih. Bersabar dalam waktu-waktu belajar dan menempa diri dengan ilmu adalah salah satu kenikmatan. Tidak setiap orang diberi kesabaran dalam merentas waktu. Buktinya akan didapati bahwa rekan-rekan yang dahulunya bersama dalam belajar kini hanya 2 atau 3 orang yang setia duduk di hadapan ustadznya. Sebagiannya gugur di tengah jalan.
            Intinya, semangat untuk cepat menguasai bahasa arab secara utuh adalah wajar dan bagus sekali namun mesti mengingatkan diri pribadi bahwa semuanya butuh waktu. Lantas bagaimana kalau cara ustadznya mengajar tidak menarik?? Segala puji bagi Allah yang telah menggariskan salah satu prinsip ahlussunnah wal jama’ah yaitu berkepentingan terhadap ilmu baik pencapaian, penyebaran dan pengamalannya.

            Orang yang menuntut ilmu adalah orang yang “rakus” terhadap ilmu dan mereka begitu gigih. Tidak hanya teori namun ini memang realita jika obyek yang anda perhatikan adalah mereka yang bermanhaj salaf. Dari ini, dominasi rasa ‘rakus’ terhadap ilmu diharapkan bisa mengalahkan cara mengajar ustadz yang (dianggap) tidak menarik. Ingat, ini hanyalah ketidaktepatan “cara” mengajar bukan cacat dalam esensi ilmu itu sendiri yang beliau sampaikan. Para ulama menasehati agar sabar terhadap proses belajat termasuk sabar tentang kekurangan cara yang dianggap tidak menarik. Memang benar dan tidak dipungkiri bahwa ustadz yang satu memiliki kelebihan dalam cara mengajar namun tidak begitu dengan ustadz yang lain. Sebagian thullab non ma’had, dengan alasan ini, meninggalkan majelis ilmu, termasuk pembelajaran bahasa arab, padahal sang ustadz berkompeten. Ini disayangkan karena sama saja dengan menghalangi diri dengan ilmu. Ingatlah bahwa para ulama menegaskan bahwa: “sesuatu yang tidak bisa diraih seutuhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya.” Cara mengajar sang ustadz yang dianggap tidak menarik tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan ilmu seutuhnya, termasuk bahasa arab. Karena ini akan merugikan diri pribadi. Terakhir, ulama juga menegaskan bahwa Allah mengharamkan “tangan hampa” bagi orang yang benar-benar mencari ilmu, dengan makna lain bahwa pasti akan ada faidah yang bisa dipetik dari setiap majelis selama hati benar-benar jujur meniatkan ilmu walau dengan ketidaksempurnaan cara mengajar sang ustadz. Wallahu a’lam.
http://www.kompasiana.com/kusnandar/kapan-aku-mahir-bahasa-arab_552b72e66ea8345f518b45b3

Keutamaan Bahasa Arab sesuai Al-Qur'anul Karim


Sekarang mari kita lihat apa keunggulan dan keutamaan bahasa Arab menurut Al-Quran. Lebih tepatnya, mengapa Al-Quran diturunkan dan dijadikan oleh Allah Swt. sebagai Kitab Suci yang berbahasa Arab? Kita akan segera menemukan jawabannya dari ayat-ayat Al-Quran sendiri.
            Setidaknya, Al-Quran menyebutkan tiga fungsi dan tujuan mengapa ia diturunkan dalam bahasa Arab. Fungsi dan tujuan itu sekaligus merupakan keunggulan dan keutamaannya menurut Al-Quran.

1. Berfungsi sebagai Sumber Informasi, Sumber Ilmu)
Haa Miim… Diturunkan dari Zat Yang Maha Rahman dan Rahim… Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya sebagai Al-Quran yang berbahasa Arab, bagi kaum yang MENGETAHUI..
(QS Fushshilat, 41:3)
            Kata MENGETAHUI sengaja saya tulis dengan huruf kapital, untuk menunjukkan penegasan fungsi dan tujuan diturunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab. Dalam redaksi Arabnya adalah ya`lamuun, yang artinya mengetahui.
            Al-Quran adalah Kitab Suci yang mengandung ilmu-ilmu yang tak terbatas, dan takkan bisa digali secara tuntas. Ilmu yang dikandungnya takkan pernah habis walau terus digali dan dikuras sepanjang masa, sepanjang kehidupan dunia masih ada. Al-Quran adalah sumber ilmu yang kaya dan abadi.
            Menariknya, penegasan bahwa Al-Quran sebagai sumber ilmu (ya`lamuun) itu, bukan sosok Al-Qurannya saja. Melainkan sosok Al-Qur’an yang berbahasa arab. Al-Quran menyebutnya, Qur`aanan `Arabiyyan. Sifat kearaban itu melekat dalam Al-Quran.
            Ini artinya, yang menjadi sumber ilmu itu bukan Al-Quran yang Kitab Suci itu, tetapi juga bahasa Arab yang menjadi media Kitab Suci itu diturunkan. Al-Quran mewujud menjadi sumber ilmu ketika ia diturunkan dalam bahasa Arab. Ketika Al-Quran menjadi sumer ilmu, maka bahasa Arab juga menjadi sumber ilmu. Sebuah Kitab Suci yang menjadi sumber ilmu hanya pantas diturunkan dalam sebuah bahasa yang memang pantas menjadi sumber ilmu pula. Sehingga ada kesetimbangan antara Kitab Suci dan bahasa yang menjadi medianya. Dan keseimbangan itu takkan terjadi bila medianya menggunakan bahasa selain Arab.
            Dengan demikian, dengan sendirinya berarti bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang kaya ilmu, menjadi sumber informasi dan pengetahuan.

2. Berfungsi Inteligensi, Mencerdaskan
Ada dua ayat yang menegaskan ini. Mari kita lihat:
Alif Laam Raa… Itu adalah ayat-ayat Al-Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami telah MENURUNKAN Al-Kitab itu Al-Quran yang Berbahasa Arab agar kalian BERAKAL…
(QS Yusuf, 12:1-2)
Haa Miim… Demi Al-Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami telah MENJADIKAN Al-Kitab itu Al-Quran yang Berbahasa Arab agar kalian BERAKAL… (QS al-Zukhruf, 43:1-3
            Di situ Allah Swt. menegaskan bahwa tujuan diturunkan dan dijadikannya Al-Quran berbahasa Arab adalah “agar kalian berakal” (la`allakum ta`qiluun). Kata aqal dalam Al-Quran selalu digunakan dalam bentuk kata kerja, kata yang bermakna aktivitas yang terus berproses. Akal bermakna kecerdasan. Sehingga, mengapa Al-Quran diturunkan berbahasa Arab, di antaranya adalah agar kita cerdas.
            Itu artinya, kearaban Al-Quran itu berfungsi mencerdaskan para pembaca dan pengkajinya. Yang mencerdaskan manusia itu bukan saja Al-Quran sebagai Kitab Sucinya, melainkan juga Al-Quran yang berbahasa Arabnya juga. Karena sifat kearaban itu melekat dalam Al-Quran, maka ketika Al-Quran mencerdaskan, maka bahasa Arab yang menjadi medianya juga, mencerdaskan.
            Yang perlu diteliti lebih lanjut adalah, dalam kedua ayat di atas, Allah mengungkapkan dua kata yang berbeda, berkaitan dengan Al-Quran berbahasa Arab itu. Pertama Dia mengungkapkan, “kami menurunkan”. Dan yang kedua Dia mengungkapkan, “kami menjadikan.” Antara kata menurunkan dan menjadikan, tentu saja keduanya memiliki makna yang berbeda.
            “Menurunkan” adalah sebuah aktivitas menggerakkan sesuatu dari atas ke bawah. Artinya, Al-Quran diturunkan dari Alam Tinggi (Lawh Mahfuzh) ke Alam Rendah (alam dunia), dengan bahasa Arab. Sedangkan “menjadikan” adalah sebuah tindakan menetapkan dan mengadakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, atau dari suatu kondisi ke kondisi lain yang dikehendaki. Ini berarti, bahwa kearaban Al-Quran adalah sebuah ketetapan yang Allah kehendaki.

3. Fungsi Spiritual
Dalam sebuah ayat disebutkan sebagai berikut:
Al-Quran yang berbahasa Arab, yang tidak memiliki kebengkokan, agar mereka BERTAKWA… (QS al-Zumr, 39:28)
            Di sini ditegaskan bahwa Al-Quran berbahasa itu tujuannya adalah agar kita semua bertakwa. Tentu saja takwa merupakan sebuah konsep yang sangat luas dan dalam. Tetapi secara garis besar, takwa merupakan dimensi spiritualitas.
            Secara implisit ini menyatakan bahwa Al-Quran yang berbahasa Arab itu bisa menjadikan seseorang bertakwa, menjadi baik, menjadi sosok yang spiritual, yang dekat kepada Tuhan. Banyak kalangan yang menceritakan pengalaman mereka, bahwa ketika mereka membaca Al-Quran mereka merasa damai, tenang, dan merasa dekat dengan Rabb. Bunyi dan nada bacaan Al-Quran membuat mereka hanyut dalam kedamaian.
            Itu artinya, Al-Quran dapat menggerakkan orang untuk menspiritualkan dirinya, untuk menjadi sosok yang mulia dan dekat dengan Penguasa dirinya. Al-Quran dapat menumbuhkan dan mengaktifkan kekuatan pengendalian diri pada seseorang. Al-Quran memiliki kekuatan untuk mendamaikan dan menenangkan. Dan kekuatan itu muncul dari Al-Quran yang berbahasa Arab.
            Ini juga sekaligus berarti bahwa bahasa Arab memang memiliki kekuatan untuk menspiritualkan manusia, membuat manusia cenderung pada kebaikan. Berbeda dengan bahasa-bahasa lain. Kita misalnya dapat merasakan dan menyaksikan, jika ada orang yang pandai berbahasa Arab, maka ia akan lazim disebut oleh masyarakatnya dengan sebutan ustadz atau bahkan kyai. Ketika seseorang sudah dilabeli sebutan ustadz, maka ia akan berpikir seribu kali untuk bertindak buruk atau amoral. Sehingga, bahasa Arab telah menjadikannya bergerak pada kebaikan. Bahasa Arab adalah bahasa dakwah, bahasa yang dapat memperbaiki perilaku seseorang. Sebaliknya, kita juga dapat merasakan, ada sebuah bahasa yang auranya justru mendorong seseorang pada keburukan dan kemaksiatan.
            Kita mungkin akan mempertanyakan: “Jika bahasa Arab bisa menspiritualkan kepribadian seseorang, lalu mengapa ada saja –atau bahkan banyak– orang Arab yang juga berperilaku buruk dan tidak bermoral?”
            Jawabnya: “Sebagaimana air yang memiliki kekuatan untuk membasahi, tetapi ia takkan bisa membasahi siapa pun yang tidak mau menyentuh atau tersentuh olehnya. Sebagaimana bola lampu yang bisa menerangi, tetapi ia takkan bisa menerangi orang-orang sekelilingnya jika mereka tidak mau menyalakannya. Begitu seterusnya.”

            Alhasil, bahasa Arab adalah bahasa yang unggul, utama dan luar biasa. Dan keunggulan itu telah dinyatakan sendiri oleh Al-Quran. Maka, berbahagialah orang yang bisa berbahasa Arab. Dan berbahagia pula orang yang mau belajar dan terus belajar bahasa Arab…
http://m.anwar-sanusi.abatasa.co.id/post/detail/17848/tiga-keunggulan-bahasa-arab-menurut-al-quran.html

Senin, 15 Februari 2016

Do'a Buat Seseorang yg Dilanda Perasaan CINTA



Ya Allah, jika aku jatuh cinta*
cintakanlah aku pada seseorang 
yang melabuhkan cintanya pada_Mu*
agar bertambah kekuatanku untuk mencintai_Mu*

Ya Allah, jika aku jatuh hati*
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada_Mu*
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu*

Ya Robbana, jika aku jatuh hati*
jagalah hatiku padanya agar tidak berpalinghati ini dari_Mu*
Ya Robbul Izzati*
jika aku Rindu*
Rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid dijalan_Mu*

Ya Allah*
jika aku menikmati Cinta pada hamba_Mu*
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhir_Mu*

Ya Allah*
jika aku jatuh hati pada hamba_Mu*
jangan biarkan aku tertatih
dan terjatuh hingga melupakan hakikat Dzat keabadian_Mu ..*
Aamiiin ... ya Robbal 'Alamiin***

-SYAIR CINTA ALI BIN ABI THOLIB UNTUK FATIMAH-
 

Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
Adapun yang terjadi dan selamanya
Engkaulah cintaku duhai istriku
Engkaulah kekasihku
Engkau istriku yang halal
Aku tidak peduli celaan orang
Kita satu tujuan untuk selamanya
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu
Kebahaigaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap
Hidupku menjadi terang ketika kamu di sana

Engkau kebahagiaanku
Tanamkanlah kebahagiaan selamanya
@duniajilbab

Rabu, 10 Februari 2016

Menjadi Tauladan Seorang Adik
 
 Kita pasti udah merasakan pembelajaran dari seseorang yang lebih tua dari Kita. Dan suatu saat kita akan menduduki seperti mereka yakni kita yang akan menjadi Pengarah untuk seorang yang lebih kecil dari kita.

Tak tersadari, komunikasi umat mengalir dengan berpasang-pasangan. Di balik semua itu, banyak sekali "fadlilah wa faidah" (keutamaan dan kemanfaatan). Menjadi panutan adalah perjuangan dunia yang mulia sekali. Sebab, itu semua berpengaruh pada kondidi seseorang yang demi kebaikannya.

Media mulut adalah yang paling efektif, mudah, dan langsung dalam proses mulia ini. Tak semua orang bisa menjadi Tauladan Umat. Dan tidak semua orang bisa diteladani umat.  Jadi, hanya seorang tertentu yang mencapai keadaaan kedua ini dengan sikap sungguh-sungguh.

Seorang anak mungil adalah yang paling membutuhkan panutan. Kini terasakan padaku disaat keberadaanku di Pesantren. Adik yang ingin berada di sisiku. Dan ingin menjadi sepertiku. Tapi, aku tak bisa menjanjikannya. Aku takut sesuatu. Saat sikap burukku yang tak patut dan tak sesuai yang menbuat adik terbawa olehku. Berjalannya waktu kita tetap berpasangan. Ternyata semua ini bisa menjadi motivasi ku juga. Disaat adik ingin menjadi sepertiku, selama itu juga aku berhati-hati dalam bersikap. Dan membuat diriku bisa membiasakan diri tak ceroboh dalam bersikap. Semua aspek hidup kita sedikit demi sedikit mampu kita jalani sesuai islami walau belum bisa bernilai penuh.

Kita yakin, TUHAN sayang pada hamba-hambanNya. Jadi, semua pasti ada beribu Hikmah.

Selasa, 09 Februari 2016

CINTA SYURGA


Lirik Lagu Aurel & Rasya - Cinta Surga

Setetes embun pagi Menghapus perihku
Yang dulu terluka kini tlah membaik
Kembalikan cinta dari surga

Hangatnya sentuhan cintamu Meluluhkan hati
Yang dulu membeku kini telah mencair
Selamanya kan tetap begitu

Kau yang terbaik untukku
Seluruh nafasku untukmu
Ku tak bisa bila harus tanpa kamu
Cinta kita cinta surga sampai mati tetap bersama
Kau dan aku kau dan aku selamanya

Hangatnya sentuhan cintamu Meluluhkan hati
Yang dulu membeku kini telah mencair
Selamanya kan tetap begitu

Kau yang terbaik untukku
Seluruh nafasku untukmu
Ku tak bisa bila harus tanpa kamu
Cinta kita cinta surga sampai mati tetap bersama
Kau dan aku kau dan aku selamanya

Cinta kita cinta surga sampai mati kan bersama
Kau dan aku yang terbaik
Kau dan aku selamanya

Kau yang terbaik untukku
Seluruh nafasku untukmu
Ku tak bisa bila harus tanpa kamu
Cinta kita cinta surga sampai mati tetap bersama
Kau dan aku kau dan aku selamanya 

http://lirikanlaguku.blogspot.co.id/2014/12/lirik-lagu-aurel-rasya-cinta-surga.html

Bukan Kita yang Sempurna

 

Udahkah kita dekat Allah ???
Ya .. Hanya Allah lah yang  sempurna dan perfect. Kita sebagai makhluknya tidak ada apa-apaNya jika dibandingkan dengan beliau. Jadi Syukurilah apa yang udah kita dapatkan di dunia ini.

Allah menciptakan makhluk-makhluknya tidak akan sepenuhnya dalam keadaan sempurna sepertiNya. Allah menciptakan kita ada kelebihan dan pasti ada kekurangan pada diri kita. IRI adalah kendala kita dalam menjalani sikap syukur. Memang berat sekali kita jauh-jauh dari sikap iri. Iri adalah tanda bahwa kita adalah orang yang dikatakan tidak mampu berbuat apapun. Semua itu sudah menjadi pilihan Allah. Allah memberi kita kekurangan saat ini, tapi suatu saat kita akan bisa mensyukuri keadaan tersebut. disitulah kita memiliki kelebihan dalam diri kita yakni bisa bersikap syukur menerima apa yang ditakdirkan Allah. Dan yakin dibalik semua itu, sebenarnya kita juga memiliki kelebihan tersendiri-tersendiri yang sudah ditentukan Allah SWT.

Sesungguhnya apa yang udah ditakdirkan Allah adalah yang terbaik bagi kita. Tapi, tak semua orang bisa menerimaNya. Seseorang yang bisa menyikapi takdirullah dengan baik adalah orang-orang yang bisa menjaga diri dan mampu mengarahkan diri menuju jalan Allah. Namun, seseorang yang selalu mengelak akan takdirullah dialah orang yang rugi dan tak pernah merasakan qona'ah.

Tetap kita semua harus ingat,
Sesempurna kita pasti ada kekurangannya,
Semampu kita pasti ada kerumitan, 
Semua milik Allah dan sempurna adalah milik Allah.

Begitu juga pada diri Rosul kita,Rosululloh SAW. walaupun beliau adalah habibulloh (kekasih Allah). Dia nabi pembenar umatNya, pemimpin adil, jujur, dan bijaksana, dan dikenal kemasyhuranNya. Semua itu tidak sampai dikatakan makhluk yang paling sempurna. Tetap saja Rosululloh adalah rasul kita, tauladan kita yang juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Rabb kita lah yang wajib dikatakan sempurna.