Umumnya orang yang belajar bahasa arab memiliki semangat
yang gigih dan melakukan proses belajar yang terus menerus. Bahasa apapun,
termasuk bahasa arab, ibarat puzzle raksasa yang tak akan utuh dan sempurna
tersusun dalam satu waktu pada satuan detik, hari, minggu, atau bulan. Lebih
tepatnya kita berbicara satuan tahun karena ketika ini ditanyakan kepada mereka
yang sudah bisa berbahasa arab, mereka tidak akan mampu menjawab pada detik,
hari, pekan, bulan ke berapa mereka telah menguasai bahasa ini. Tapi tenang
saja, periode dalam proses belajar tidak akan terasa jika memang proses ini
dinikmati, dinikmati sebagai langkah ibadah dan menuju pribadi yang lebih.
Bersabar dalam waktu-waktu belajar dan menempa diri dengan ilmu adalah salah
satu kenikmatan. Tidak setiap orang diberi kesabaran dalam merentas waktu.
Buktinya akan didapati bahwa rekan-rekan yang dahulunya bersama dalam belajar
kini hanya 2 atau 3 orang yang setia duduk di hadapan ustadznya. Sebagiannya
gugur di tengah jalan.
Intinya,
semangat untuk cepat menguasai bahasa arab secara utuh adalah wajar dan bagus
sekali namun mesti mengingatkan diri pribadi bahwa semuanya butuh waktu. Lantas
bagaimana kalau cara ustadznya mengajar tidak menarik?? Segala puji bagi Allah
yang telah menggariskan salah satu prinsip ahlussunnah wal jama’ah yaitu
berkepentingan terhadap ilmu baik pencapaian, penyebaran dan pengamalannya.

Orang
yang menuntut ilmu adalah orang yang “rakus” terhadap ilmu dan mereka begitu
gigih. Tidak hanya teori namun ini memang realita jika obyek yang anda
perhatikan adalah mereka yang bermanhaj salaf. Dari ini, dominasi rasa ‘rakus’
terhadap ilmu diharapkan bisa mengalahkan cara mengajar ustadz yang (dianggap)
tidak menarik. Ingat, ini hanyalah ketidaktepatan “cara” mengajar bukan cacat
dalam esensi ilmu itu sendiri yang beliau sampaikan. Para ulama menasehati agar
sabar terhadap proses belajat termasuk sabar tentang kekurangan cara yang
dianggap tidak menarik. Memang benar dan tidak dipungkiri bahwa ustadz yang
satu memiliki kelebihan dalam cara mengajar namun tidak begitu dengan ustadz
yang lain. Sebagian thullab non ma’had, dengan alasan ini, meninggalkan majelis
ilmu, termasuk pembelajaran bahasa arab, padahal sang ustadz berkompeten. Ini
disayangkan karena sama saja dengan menghalangi diri dengan ilmu. Ingatlah
bahwa para ulama menegaskan bahwa: “sesuatu yang tidak bisa diraih seutuhnya
maka tidak ditinggalkan seluruhnya.” Cara mengajar sang ustadz yang dianggap
tidak menarik tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan ilmu seutuhnya,
termasuk bahasa arab. Karena ini akan merugikan diri pribadi. Terakhir, ulama
juga menegaskan bahwa Allah mengharamkan “tangan hampa” bagi orang yang
benar-benar mencari ilmu, dengan makna lain bahwa pasti akan ada faidah yang
bisa dipetik dari setiap majelis selama hati benar-benar jujur meniatkan ilmu
walau dengan ketidaksempurnaan cara mengajar sang ustadz. Wallahu a’lam.
http://www.kompasiana.com/kusnandar/kapan-aku-mahir-bahasa-arab_552b72e66ea8345f518b45b3
Subhanallaah... :)
BalasHapus